October 10, 2026

Bandar Lampung (2/3) Dari total 193 penulis yang berpartisipasi dalam Lomba Tingkat Nasional HUT Pramoedya ID, nama Wahyu Iryana akhirnya ditetapkan sebagai Juara I Karya Ilmiah Terbaik Kategori Umum. Ajang ini diselenggarakan untuk memperingati hari lahir sastrawan dan intelektual besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang dikenal luas sebagai sosok pengarang, pemikir, sekaligus penggugat ketidakadilan sosial melalui karya-karyanya.
Kemenangan Wahyu Iryana menjadi sorotan tersendiri karena ketatnya persaingan. Ratusan naskah dari berbagai latar belakang profesi akademisi, guru, mahasiswa, peneliti independen, hingga pegiat literasi masuk ke meja dewan juri. Dalam atmosfer kompetisi yang demikian padat, karya Wahyu dinilai paling menonjol dari sisi orisinalitas gagasan, kedalaman analisis, kekuatan argumentasi, serta keberanian dalam membaca realitas Indonesia secara kritis.
Melalui karya ilmiah berjudul “Indonesia dalam Bingkai Selogan Kejayaan”, Wahyu Iryana mengajak pembaca untuk menelisik ulang bahasa-bahasa besar yang kerap dipakai dalam narasi kebangsaan. Istilah “kejayaan”, menurut Wahyu, bukan sekadar slogan kosong atau romantisme sejarah, melainkan harus diuji melalui kenyataan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan yang dihadapi rakyat hari ini. Di tangan Wahyu, slogan tidak dibiarkan mengawang-awang, tetapi ditarik ke bumi, dipertanyakan, bahkan digugat secara akademik.
Dewan juri menilai bahwa tulisan Wahyu berhasil memadukan pendekatan historis dan refleksi kontemporer. Ia tidak hanya mengulas masa lalu sebagai nostalgia, tetapi menjadikannya cermin untuk membaca problem kekinian. Dengan gaya bahasa yang lugas namun tetap akademis, Wahyu menempatkan Indonesia sebagai sebuah proyek yang belum selesai sebuah bangsa yang terus bergerak, namun sering terjebak dalam pengulangan jargon tanpa keberanian evaluasi mendasar. Dari hasil wawancara langsung Wahyu Iryana baru mengetahui informasi pemenang tersebut Dari email yang dia terima.
Sedangkan di posisi Juara II, tampil Zeta dengan karya bertema “Menggugat Indonesia”. Tulisan ini dinilai kuat karena keberaniannya dalam membongkar kontradiksi antara cita-cita nasional dan praktik kenegaraan. Zeta menyoroti berbagai problem struktural, mulai dari ketimpangan sosial, krisis representasi politik, hingga kemunduran etika publik. Meski berada di posisi kedua, karya Zeta diapresiasi sebagai salah satu tulisan paling provokatif dan menggugah dalam lomba ini.
Sementara itu, Juara III diraih oleh Patimah, M.Pd, melalui karya ilmiah berjudul “Refleksi Kritis di Tengah Zaman yang Bergerak”. Tulisan Patimah menekankan pentingnya kesadaran reflektif di tengah percepatan perubahan zaman. Ia mengajak pembaca untuk tidak larut dalam arus kemajuan yang serba cepat tanpa pijakan nilai dan kebijaksanaan. Karya ini dinilai unggul dalam ketajaman refleksi filosofis dan relevansinya dengan dunia pendidikan serta kehidupan sosial.


Ketiga pemenang dinilai mewakili spektrum pemikiran yang berbeda, namun memiliki satu benang merah: keberanian berpikir kritis. Inilah semangat yang sejak awal ingin dihidupkan oleh penyelenggara Lomba HUT Pramoedya ID. Menurut panitia, Pramoedya bukan hanya dikenang sebagai sastrawan besar, tetapi juga sebagai simbol perlawanan intelektual terhadap pembungkaman, ketidakadilan, dan kemapanan yang menindas.
Dalam keterangan resminya, panitia menyebut bahwa kualitas naskah tahun ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyak karya yang tidak hanya rapi secara metodologis, tetapi juga memiliki keberpihakan yang jelas pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan kebangsaan. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi menulis ilmiah-kritis masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Sebagai bentuk apresiasi, masing-masing pemenang menerima piagam penghargaan dan uang pembinaan. Namun lebih dari itu, kemenangan ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi para penulis lain untuk terus berkarya dan berani menyuarakan kegelisahan intelektualnya. Bagi Wahyu Iryana, capaian ini bukan sekadar prestasi personal, melainkan juga tanggung jawab moral untuk terus menghadirkan tulisan-tulisan yang berpihak pada nalar sehat dan kepentingan publik.
Wahyu sendiri dikenal sebagai penulis yang konsisten menggarap tema sejarah, kebangsaan, dan kritik sosial. Dalam berbagai tulisannya, ia kerap menempatkan sejarah bukan sebagai arsip mati, tetapi sebagai energi untuk membaca masa kini dan merancang masa depan. Kemenangannya dalam lomba ini dinilai sebagai kelanjutan dari konsistensi intelektual tersebut.


Lomba Tingkat Nasional HUT Pramoedya ID tahun ini sekali lagi menegaskan bahwa ruang literasi dan pemikiran kritis masih memiliki tempat penting di Indonesia. Di tengah banjir informasi instan dan opini dangkal, kehadiran karya ilmiah yang ditulis dengan kesungguhan menjadi oase yang menyejukkan. Nama Wahyu Iryana, Zeta, dan Patimah, M.Pd kini tercatat sebagai bagian dari upaya kolektif merawat tradisi berpikir kritis ala Pramoedya.
Dengan berakhirnya lomba ini, panitia berharap diskusi dan perdebatan yang lahir dari karya-karya peserta tidak berhenti di ruang penjurian semata. Lebih jauh, gagasan-gagasan tersebut diharapkan dapat beredar luas di ruang publik, menjadi bahan renungan bersama tentang ke mana Indonesia hendak melangkah. Sebab, sebagaimana pesan yang kerap diwariskan Pramoedya, menulis bukan hanya soal kata-kata, tetapi tentang keberanian berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan.
(Biswa.red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *