Bandar Lampung,
Dari sudut kampus hijau di Bandar Lampung, seorang sejarawan muda menorehkan tinta emas di panggung kesusastraan nasional. Wahyu Iryana, Direktur Eksekutif Pusat Studi Sejarah Islam Lampung sekaligus dosen di UIN Raden Intan Lampung, berhasil menembus tiga besar penulis terbaik dalam ajang nasional “100 Tahun Pramoedya Ananta Toer”.
Melalui esai berjudul Pramoedya dalam Ekosistem Digital: Resonansi Kesusastraan dan Narasi Perlawanan di Era Siber, Wahyu mengupas ulang warisan pemikiran Pram dengan pendekatan kontemporer. Ia membawa pembaca menyelami kemungkinan-kemungkinan baru dari semangat perlawanan ala Pramoedya yang kini hidup di ruang-ruang digital.

Dari 137 naskah yang masuk ke panitia, tulisannya lolos ke 35 besar, dan terus melaju hingga masuk tiga besar terbaik. Semua karya terpilih ini rencananya akan dibukukan dalam satu antologi nasional, lengkap dengan pengantar khusus dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
“Karya ini bukan sekadar apresiasi terhadap Pramoedya, tapi upaya menggali relevansi pemikirannya di tengah arus informasi digital yang masif dan terkadang menyesatkan,” ujar Wahyu kepada Tempo, Selasa siang.
Esainya menelusuri bagaimana semangat perlawanan dan keberpihakan Pramoedya terhadap kaum tertindas menemukan gaung baru di era algoritma dan big data. Ia mengajak pembaca untuk memaknai ulang perlawanan bukan lagi hanya melalui buku atau manifesto, tetapi juga melalui cuitan, thread, video pendek, bahkan meme yang memantik kesadaran kritis.
Dewan juri menilai karya Wahyu sebagai salah satu yang paling inovatif. “Esai ini menjembatani masa lalu dan masa kini dengan elegan. Ia tidak mengagung-agungkan Pram sebagai ikon mati, tapi menghidupkannya kembali sebagai ide yang terus bergerak,” kata salah satu juri dalam pernyataan tertulis.
Ajang ini merupakan bagian dari peringatan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, penulis legendaris Indonesia yang dikenal dengan tetralogi Buru, dan narasi-narasinya yang menyuarakan ketidakadilan dan kemanusiaan. Selain menulis, Wahyu juga aktif mengarsipkan sejarah lokal dan mengangkat kisah-kisah dari pesantren, tokoh ulama, dan gerakan rakyat dari tanah Lampung.
“Semangat Pram adalah semangat melawan amnesia sejarah. Itu juga yang saya pegang dalam menulis dan meneliti,” ujarnya.
Kini, dengan masuknya Wahyu dalam buku antologi 35 tulisan terbaik, ia tak hanya membawa nama Lampung ke panggung nasional, tetapi juga membuktikan bahwa ruang digital masih bisa menjadi arena pertarungan gagasan yang serius dan membebaskan.
Sejarawan UIN Raden Intan Lampung Masuk Tiga Besar Penulis Terbaik 100 Tahun Pramoedya
Wahyu Iryana Menyusuri Jejak Pram di Era Siber
Bandar Lampung,
Dari sudut kampus hijau di Bandar Lampung, seorang sejarawan muda menorehkan tinta emas di panggung kesusastraan nasional. Wahyu Iryana, Direktur Eksekutif Pusat Studi Sejarah Islam Lampung sekaligus dosen di UIN Raden Intan Lampung, berhasil menembus tiga besar penulis terbaik dalam ajang nasional “100 Tahun Pramoedya Ananta Toer”.
Melalui esai berjudul Pramoedya dalam Ekosistem Digital: Resonansi Kesusastraan dan Narasi Perlawanan di Era Siber, Wahyu mengupas ulang warisan pemikiran Pram dengan pendekatan kontemporer. Ia membawa pembaca menyelami kemungkinan-kemungkinan baru dari semangat perlawanan ala Pramoedya yang kini hidup di ruang-ruang digital.
Dari 137 naskah yang masuk ke panitia, tulisannya lolos ke 35 besar, dan terus melaju hingga masuk tiga besar terbaik. Semua karya terpilih ini rencananya akan dibukukan dalam satu antologi nasional, lengkap dengan pengantar khusus dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
“Karya ini bukan sekadar apresiasi terhadap Pramoedya, tapi upaya menggali relevansi pemikirannya di tengah arus informasi digital yang masif dan terkadang menyesatkan,” ujar Wahyu kepada Tempo, Selasa siang.
Esainya menelusuri bagaimana semangat perlawanan dan keberpihakan Pramoedya terhadap kaum tertindas menemukan gaung baru di era algoritma dan big data. Ia mengajak pembaca untuk memaknai ulang perlawanan bukan lagi hanya melalui buku atau manifesto, tetapi juga melalui cuitan, thread, video pendek, bahkan meme yang memantik kesadaran kritis.
Dewan juri menilai karya Wahyu sebagai salah satu yang paling inovatif. “Esai ini menjembatani masa lalu dan masa kini dengan elegan. Ia tidak mengagung-agungkan Pram sebagai ikon mati, tapi menghidupkannya kembali sebagai ide yang terus bergerak,” kata salah satu juri dalam pernyataan tertulis.
Ajang ini merupakan bagian dari peringatan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, penulis legendaris Indonesia yang dikenal dengan tetralogi Buru, dan narasi-narasinya yang menyuarakan ketidakadilan dan kemanusiaan. Selain menulis, Wahyu juga aktif mengarsipkan sejarah lokal dan mengangkat kisah-kisah dari pesantren, tokoh ulama, dan gerakan rakyat dari tanah Lampung.
“Semangat Pram adalah semangat melawan amnesia sejarah. Itu juga yang saya pegang dalam menulis dan meneliti,” ujarnya.
Kini, dengan masuknya Wahyu dalam buku antologi 35 tulisan terbaik, ia tak hanya membawa nama Lampung ke panggung nasional, tetapi juga membuktikan bahwa ruang digital masih bisa menjadi arena pertarungan gagasan yang serius dan membebaskan.
